Asher Pacey Wins Inaugural Good Vibrations Retro Event at Canggu-Bali

5 September 2010, Kuta-Bali:  Australia’s Asher Pacey claimed victory yesterday at the inaugural Good Vibrations Retro Surf and Music event held at Canggu-Bali, taking home a new Deus surfboard and the memories of a day full of fun and good vibes as promised by event sponsors RAW, Deus, Drifter, Rhythm, Mattuse, and I Magazine.

5 September 2010, Kuta Bali: Asher Pacey warga negara Australia di kukuhkan sebagai pemenang pada upacara  pertunjukkan Surfing dan musik di Canggu Bali kemarin, Dia membawa pulang satu Deus Surfboard baru dan mempunyai kenangan satu hari penuh dengan lucu dan penuh gairah, Dia juga dapat dukungan dari Sponsor RAW, Deus, Drifter, Rhythm, Mattuse dan I Magazine..

  

Pacey and finalists Mike Rommelse (Aus), Mattia Morri (Italy), Sodok (Ind), Tai Graham (Aus) and Tipi Jabrik (Ind) surfed their way through a field of 50 contestants that included Australians, Hawaiians, Italians, Americans, Indonesians, and one German to end up battling it out in the 25 minute final.

Parcey dan Peserta Mike Rommelse (Aus), Mattia Morri ( Italia), Sodok (Ind), Tai Graham (Aus), dan Tipi Jabrik (Ind) melalui acara  ini mereka peselancar yang berjumlah 50 peserta termasuk orang Australia, orang Hawai, Orang Italia, Orang America,  orang Indonesia dan satu orang Jerman berakhir 25 menit yang lalu.

 

The surfers ran the gamut from ex-world tour pro surfers (Rommelse) and well-known free surfers Pacey, Mikala Jones, Daniel Jones, and Mark Matthews to expat locals Tai Graham, Kane Faint, Andy Campbell, and Harry Radcliffe, as well as Indonesia’s Tipi Jabrik, Made Kina, Sodok, and Jeren Kiring (the youngest competitor at 14), and then just a bunch of normal everyday surfers who were attracted by the idea of joining in a retro surfing event at Canggu.

Seluruh para peselancar seperti mantan peselancar pro dunia ( Rommelse ) dan peselancar terkenal lainnya seperti Parcey, Mikala Jones, Daniel Jones, and Mark Mtthews, Tai Graham, Kane Faiont, Andy Campbell, dan Harry Radcliffe, demikian pula dari Indonesia Tipi Jabrik, Made Kina, Sodok, dan Jeren Kiring ( peserta termuda 14 th) dan hanya sekelompok peselancar harian yang tertarik ikut bergabung pada kejuaraan yang di laksanakan di Canggu Bali.

The oldest competitor was Philip Coral, in his 60’s, who made it all the way into the semifinals.  He also was the proud recipient of the Donut Award for best wipout!

Pesaing tertua adalah Philip Coral, dalam umurnya yang ke 60 dimana dia menjalani sampai ke semifinal. Dia juga menerima penghargaan kebanggaan sebagai wipe out terbaik.

The weather and surfing conditions were certainly less than ideal, with the sun refusing to appear and the threat of rain on the horizon most of the day, combined with sideshore winds and 2-3 foot waves.   But nobody was bothered much, and what resulted was one of the most fun and memorable events on record for contestants and spectators alike.

Cuaca yang kurang bersahabat mempengaruhi para peselancar karna tidak  sebagai mana semestinya dimana matahari kurang tampak malah mendung yang mendominasi. Apalagi dengan kondisi angin yang hanya 2-3 kaki, tapi tak Ada yang menghiraukannya, namun apa yang mereka hasilkan dan mereka saksikan dalam kejuaraan ini baik peserta maupun penonton sama-sama memberi kepuasan dan catatan sendiri buat mereka kenang.

  

It was an eclectic collection of surfers and surfboards that came to join in the event, billed a “retro” event, as they were required to follow a couple of rules:  First, their surfboards must be a pre-1982 design, and second, must be either single fin or twin fin.  The boards could be old or new, but they must follow those two rules in order to be allowed.

Ini adalah suatu perbandingan buat para peselancar dan juga papan selancar yang dipakainya untuk bergabung dalam kejuaraan, dan merupakan tantangan bagi mereka, karena mereka diharuskan: Pertama Papan Selancar harus di disain seperti pada tahun 1982 an dan yang kedua yang berupa sirip tunggal atau kembar, papan selancar bisa lama atau baru. Tetapi mereka harus ikut aturan yang diperbolehkan.

Throughout the day’s surfing heats that began at just before 10 am and finished up at 5:30 pm, the contestants were allowed to use their board of choice, some borrowing and swapping from each other just for a change.  But for the final, the organizers decided to mix things up a bit, choosing six surfboards and numbering them from one to six.  Then each finalist had to draw a straw to determine which board they would be riding, starting from the shortest (1) to the longest (6).  It was great fun and an interesting twist that made for a challenging and entertaining final!

Sepanjang hari memang suasana para peselancar panas mereka telah mulai sebelum jam 10 pagi dan berakhir jam 5:30 sore. Para peserta lomba dibolehkan menggunakan papan selancar sesuai keinginannya ada beberapa yang meminjam satu sama lain untuk mengadakan perubahan. Tetapi untuk final, Panitia hanya mengizinkan pada perubahan yang kecil. Hanya memilih enam papan selancar dan memberi nomor 1 sampai 6 Kemudian masing-masing peserta menarik sedotan untuk memungkinkan mereka naik dan memulai dari yang terpendek (1) ke yang terpanjang (6). Sungguh menyenangkan dan menarik untuk suatu perlombaan yang menantang dan menghibur.

 

After the horn blew and the event shirts were hung up for the day, everybody left the beach and headed to the Deus Gallery and Temple of Enthusiasm for the trophy presentation and after-party festivities. It was actually the opening party for the venue together with a very cool Single Fin Art Exhibition, so there were plenty of drinks and finger foods and the place was jam packed in record time. Needless to say, the after party went off the hook!

Setelah membunyikan lonceng mengakhiri perlombaan  seharian, setiap orang meninggalan pantai menuju Deus Gallery dan Kuil Enthusiasm untuk memerkan penghargaannya dan setelah itu merayakannya dengan makanan dan minuman  yang berlimpah. Boleh dikatan mereka merayakannya sesuka hatinya.

In addition to the surfing awards that included the Deus surfboard and various framed vintage photos given to the finalists, there were also fun awards given in a few different categories:

Selain penghargaan Surfing dan juga pemberian papan Selancar dari Deus Surfboard juga diberikan berapa foto yang telah dibingkai kepada para peserta.Dan ada juga penghargaan yang menyenangkan dengan berbagai kategori:

The Jerry Lopez Award for the best barrel - Asher Pacey.

 

The Donut Award for best wipeout – Philip Coral

 

The Froggy Award for shortest shorts – Shane Dawson

 

The Michael Peterson Award for best cutback – Daniel Jones

 

The Bohdi Award for the biggest wave – Mike Rommelse

With the success of this year’s event, it’s safe to say that you can look forward to seeing this become an annual institution for years to come.

Dengan kesuksesan acara tahun ini, dapat dipastikan acara ini menjadi acara tahunan untuk masa mendatang.

The Good Vibrations event was sponsored by Tipi Jabrik’s new RAW store, the Deus Gallery and Temple of Enthusiasm (Dustin Humphrey and friends), Tim Russo and Jake Mackenzie’s Drifter store, Rhythm Clothing (Tai Graham), Mattuse (Mikala Jones), and I Magazine with support from the Coca-Cola Indonesian Surfing Championships, Lines Magazine, and the Canggu Surf Community.

Acara The Good Vibrations disponsori oleh toko RAW baru milik Tipi Jabrik, Deus Gallery dan Temple of Enthusiasm (Dustin Humphrey dan teman-teman), toko Drifter milik Tim Russo dan Jake Mackenzie, Rhythm Clothing (Tai Graham), Mattuse (Mikala Jones), dan I Magazine dengan dukungan dari Coca-Cola Indonesia Surfing Championships, Lines Magazine, dan Canggu Surf Community.

Good Vibrations 2010 Contest Results:

1:  Asher Pacey (Aus)

2:  Mike Rommelse (Aus)

3:  Mattia Morri (Italy)

4.  Sodok (Ind))

5: Tai Graham (Aus)

6:  Tipi Jabrik (Ind)

 

Text and photos:  Tim Hain – Coca-Cola ISC Tour



Tim Hain
Media Director- Coca-Cola ISC Tour


© Selera Marketing. All rights reserved.          About   Advertising